Aku dan Ibu Mertuaku


Di mulai pada pagi hari, Aku paling suka melihat ibu mertuaku di pagi hari, karena sebelum ibu mertuaku shalat shubuh, terlebih dulu ibu selalu menyikat giginya, menyisir rambut, memakai bedak dan lipstik tipis di bibirnya. Segar dan sungguh indah dipandang. Setelah itu, ibu menyiapkan kami sarapan, gerakannya begitu lincah dan cekatan. Wajah ibu terlihat segar walau sudah berumur 56thn.

Setiap pagi aku melihat hal yang sama pada ibu mertuaku, tidak pernah ada keluhan, dalam keadaan tidak enak badanpun ibu bangkit dan melayani kami.  dan tetap dengan wajahnya yang segar dan ikhlas. Benar, wajahnya masih terlihat cantik. Aku pikir, wajah ibu yang enak di pandang itu, karena ibu selalu menghargai dirinya sendiri dan selalu  ihklas dalam hidupnya.

” Ayo Tuty, maca’  …. “

Maca’ dalam bahasa Jawa artinya dandan. Ibu sering menyuruhku maca’ pada saat bangun tidur dan  setelah shalat 5 waktu, Tentunya bukan maca’ yang berlebihan. Katanya, kalau bukan kita yang menghargai diri sendiri, bagaimana orang menghargai kita.

Ya, aku memang salut sama ibu mertuaku. selalu tampil segar, enak di pandang mata, dan selalu ikhlas dengan hidupnya yang apa adanya.

Terima kasih Ya Allah, aku diberikan ibu mertua yang baik. Aku sayang  ibu  mertuaku sama seperti aku sayang  ibuku.

Hidup Ihklas


Ternyata saya harus belajar ikhlas, ketika saya memutuskan tuk pindah ke tempat yang baru, saya mendapatkan kenyataan, bahwa lain tempat, lain pula situasinya, dan itu membuat saya sedikit shock. saya merasa bosan, jenuh dan kesepian. Intinya, saya harus belajar ihklas dan memang harus ihklas. Tapi apakah saya bisa?

keluargaku


Ini keluargaku, Papa Dayat, dan 2 anakku. Mereka penyemangatku, aku bertahan hidup karena mereka. Papa yang selalu menemaniku, menjagaku, merawatku, dan terjaga hampir setiap malam tukku. Papa yang selalu berusaha membuatku supaya bisa tidur, entah dipijit, dielus, bahkan kadang papa tertidur dalam keadaan duduk. Papa yang selalu mendoakanku, selalu, selalu dan selalu menyemangatiku. Saat aku putus asa, papa selalu ingatkan aku. Papa tidak pernah mengeluh sedikitpun, sakitpun papa selalu merawatku, apalagi pada saat papa sehat. Papa juga tidak pernah peduli dengan berapa banyak uang yang papa keluarkan tuk obatku,  tidak lelah2nya papa cari informasi tentang penyakitku. Semua papa lakukan untukku.
Papa tahu ….,
karena semangatnya papa yang seperti itu, aku menahan diri dari pikiran negatif.  berusaha tuk tidak stres apalagi tuk bunuh diri.
Sedangkan 2 anakku ini yang ingin selalu kulihat saat aku membuka mata di pagi hari. Mereka yang membuatku tertawa, terharu, Walau mereka kadang mebuatku teriak, hosa, tapi tetap meraka adalah belahan jiwaku. Rasanya bahagia bisa bersama mereka walau dengan nafas satu dua.

” Ya Allah
terima kasih atas karunia ini,
Kau beri aku suami dan anak yang hebat
amin “

Terima kasih pa, terima kasih anak-anakku karena kalian begitu mengerti kondisi mama.