Aku Sesak


Gak bisa bernapas, gak bisa bergerak. Gak bisa bicara. Jangan bentak, jangan marah, bukan gak mau nurut, bukan gak mau dengar, aku  mau ! tapi tunggu dulu, pelan-pelan. Begini posisiku yang enak, begini posisiku yang bisa buat saya tenang, maaf, jangan marah. Aku maunya sembuh kok, mau sekali sesak ini hilang, mau cepat hilang rasa takut ini. Toloooongg, jangan marah, jangan bentak, pahami aku !

Ibu sandar, angkat kepala, badan kasih lurus, ibu pegang ini ( nebulizer), ibu jangan panik, ibu jangan melawan, ibu dengar, bla bla bla …..  dan kata-kata di atas yang sering aku teriakkan  di dalam hatiku saat aku sesak dan berada di tengah orang-orang yang gak ngerti sesakku. Wajar mereka gak tau rasanya. Tapi sungguh, aku betul-betul tidak mampu, untuk membuka mata saja aku butuh tenaga yang luar bisa, disentuh dengan 1 jari saja seperti aku memikul berton-ton beras. Apalagi disuruh bergerak,  disuruh pegang sendiri nebulizerku. Maaf, betul – betul maaf, aku tidak melawan, tapi sabar ya, tunggu aku atur napas dulu tuk bergerak sesuai keinginan kalian.  Maaf, betul – betul maaf, sedikiiiiit lagi aku akan perbaiki posisiku, maaf, betul-betul maaf, tolong jangan suruh aku pegang sendiri nebulizerku, mana tali pengaitnya di telinga? Maaf, betul-betul maaf,jangan tambah sesakku dengan kata-kata memang asma seperti itu, memang asma tidak bisa sembuh, memang asma tidak bisa hilang dll. Dan maaf betul – betul maaf, jangan kerumuni aku, memang aku seperti orang gila, kebingungan, tapi aku butuh udara, walau sebenarnya udara itu ada. Maaf betul-betul minta maaf  tuk suamiku, setiap hari waktumu tersita untuk merawatku.

Cukup Ya Allah


Sesak ya Allah.

Cukup ya Allah. Hamba mohon cukupkan sampai disini cobaan tuk hamba ya Allah.

Amin